Showing posts with label inspirasi. Show all posts
Showing posts with label inspirasi. Show all posts

Friday, August 3, 2012

KIAT MANAJEMEN: Nilai Integritas Dalam Pemasaran


Konsep integritas merupakan konsep yang universal. Konsep ini sudah mendominasi dalam area politik dan pemerintahan. Indikator kurangnya nilai integritas antara lain banyak kasus penyalahgunaan wewenang atau istilah yang sangat populer saat ini adalah banyak korupsi.

Namun demikian, nilai integritas tidak hanya berkaitan dengan aspek politik, hukum, maupun pemerintahan, tetapi konsep integritas penting dijadikan landasan dalam mengembangkan strategi pemasaran. Umumnya, nilai integritas ada dalam nilai-nilai yang sudah ditetapkan oleh perusahaan.

STRATEGI BISNIS: Kristal Kepercayaan


Kenangan depresi besar atau great depression mulai muncul lagi di benak para ekonom. Setiap kali membaca berita perekonomian dunia, seakan-akan selalu muncul istilah ‘tidak becus’ dan ‘ketidakmampuan’. Maka, bayangan miris tentang depresi perekonomian yang melanda berbagai belahan bumi seusai Perang Dunia II pun menjadi ‘hantu’ di berbagai prediksi.

Apakah sesungguhnya para pengambil kebijakan dunia itu memang tidak becus? Benarkah lulusan dari Harvard itu kurang cerdik menangani krisis di Amerika Serikat?  Para staf ahli menteri di Eropa itu tidak mampu merumuskan formula tepat terhadap berbagai krisis di beberapa negara?

Thursday, August 2, 2012

KIAT MANAJEMEN: Perbedaan Itu Indah


Perbedaan setajam apa pun tidak perlu membuat kita terpecah belah, apalagi bersengketa. Perbedaan dalam hal prinsip sekali pun, tetap bisa berjalan seiring tanpa perlu bersitegang, apalagi mengedepankan kekerasan.

Itulah catatan indah yang bisa kita berikan untuk penentuan awal Ramadan 1433 H. Lagi-lagi umat Islam tidak bisa sepakat. Ada yang menetapkan awal Ramadan bertepatan dengan Jumat 20 Juli, ada yang sehari kemudian. Soal awal shiyam Ramadan adalah soal prinsip, menyangkut keyakinan. Siapa pun tidak bisa mengintervensi dan memaksakan keyakinannya diterima pihak lain, atau sebaliknya.

Tuesday, July 31, 2012

INSPIRASI IDA SOFIATI: Ida memupuk kembali rezeki dari kebangkrutan


Jatuh bangun di dunia usaha telah memupuk mental Ida Sofiati sebagai seorang entrepreneur sejati. Meski berbekal modal minim, Ida berhasil mengembangkan bisnis pupuk hayati hingga mendulang omzet miliaran rupiah.

Tekad dan semangat. Dua modal itu yang dimiliki oleh Ida Sofiati untuk membangun bisnis pupuk selama tujuh tahun ini. Berbagai kegagalan dan keterpurukan pun menjadi pelajaran berharga untuk terus melangkah maju menjadi seorang entrepreneur.

INSPIRASI USAHA: Meretas Peluang Usaha Toko Beras


KOMPAS.com - Dari tahun ke tahun, permintaan beras tak pernah turun di pasaran. Itu juga yang mendorong UD Jumars Group menawarkan kemitraan toko beras dengan brand Gudang Beras 9 atau GB9. Dengan investasi Rp 300 juta, mitra bisa meraup omzet Rp 480 juta per bulan.

Sebagai makanan pokok, permintaan beras tak pernah surut di pasaran. Bahkan, konsumsi beras di dalam negeri cenderung terus naik setiap tahunnya. Tak heran kalau beras selalu menjadi komoditas yang menarik untuk diperdagangkan.

Monday, July 30, 2012

Ngutang ke 'IMF' Masuk 11 Jurus Jitu Dapat Modal Usaha


Jakarta - Modal adalah suatu hal yang wajib ketika Anda mulai bisnis. Ada yang menggunakan modal besar atau pun modal kecil. Namun ada pun yang tidak memakai modal dan bisa memulai serta mengembangkan bisnis.

Berikut ini 11 cara mendapatkan modal untuk memulai bisnis, yaitu :

Friday, July 27, 2012

Ini Tips Bagi Anda yang Sedang Cari Karyawan Baru


Klinik UKM 
Iim Rusyamsi, S.T.
Pakar Usaha Kecil Menengah
Chairman, UKMSukses.com
Co-Founder dan MWA Komunitas TDA







Jakarta - Saya saya punya usaha bidang advertising, dan saya memerlukan karyawan yang baik dan bisa di percaya. Bagaimana untuk mengetahui karyawan yang baik atau tidak baik ?

Terima Kasih

Henry

henryargian@gmail.com


Sikap Positif Entrepreneur


Alim Markus (Presdir Maspion Group)

Indonesia perlu lebih banyak entrepreneur. Pengangguran dan lonjakan tenaga kerja baru lebih gampang diserap jika banyak entrepreneur di Tanah Air.
Berbagai upaya menumbuhkan wirausaha baru sepantasnya kita dukung. Bukan saja dari sisi akses modal, menumbuhkan mental pengusaha juga penting dilakukan.

Thursday, July 26, 2012

Denni, Si Pelopor Oleh-oleh Batam



Sampai tahun 2006, Denni Delyandri (32) menjadi karyawan dengan penghasilan maksimal Rp 2,5 juta per bulan. Kini, ayah tiga anak itu menjadi direktur perusahaan beromzet harian rata-rata Rp 100 juta.

Rezeki itu ia bagi dengan 220 karyawan di Batam, Kepulauan Riau, dan Pekanbaru, Riau. Suami Selvi Nurlia itu juga membagi rezeki itu dengan sedikitnya 80 UKM yang bermitra dengan perusahaannya, CV Media Kreasi Bangsa (MKB).

Tuesday, July 24, 2012

Membangun Saluran Pipa untuk Mengalirkan Uang



Jakarta - Mana yang Anda pilih membangun saluran pipa atau mengangkuti ember?

Keterangan:
Sebenarnya ilustrasi di atas adalah untuk membedakan antara orang-orang yang terus menjadi employee atau self employee dengan orang yang membangun bisnis dan investasinya sehingga terwujud pipa penghasilannya.

Seperti dikisahkan oleh Robert Kiyosaki:
Zaman dahulu kala ada sebuah desa kecil yang indah. Tempat itu sangat menyenangkan namun memiliki sebuah masalah. Desa itu tak punya air bila tak turun hujan, makanya para tetua desa memutuskan untuk menawarkan kontrak kepada siapa saja yang bisa menyediakan air bagi penduduk desa itu. Akhirnya ada dua orang yang mengajukan diri, dan para tetua desa berharap akan ada persaingan di antara mereka yang pada akhirnya dapat menekan harga.

Orang pertama yang menjalankan kontrak itu bernama Ed. Ia langsung membeli 2 buah ember dan langsung mengisi penampungan air (yang sudah dibuat dari beton oleh penduduk) dengan cara mengangkut air dari danau ke penampungan dengan kedua embernya dari pagi hingga petang. Setiap pagi ia harus bangun lebih awal untuk memastikan persediaan air cukup bagi penduduk desa saat mereka memerlukannya. Ia harus bekerja keras, tapi ia sangat senang karena bisa menghasilkan uang.

Pemegang kontrak kedua bernama Bill, yang beberapa waktu malah menghilang. Dia tidak membeli 2 ember untuk bersaing dengan Ed, malah membuat rencana usaha, mendirikan perusahaan, mencari penanam modal, mengangkat asisten untuk melakukan pekerjaannya dan kembali setelah enam bulan dengan membawa kru bangunan yang siap membangun jaringan pipa baja anti karat bervolume besar yang menyambungkan desa dengan danau. Pada saat pembukaan, Bill mengatakan airnya lebih bersih, bisa memasok 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan 75% lebih murah dari Ed. Penduduk desa bersorak berlari ke arah kran pipa Bill.

Supaya bisa bersaing, Ed juga menurunkan harga. Mempekerjakan kedua putranya untuk membantu giliran kerja malam dan pada akhir pekan. Ketika anaknya sekolah di perguruan tinggi, ia berkata pada mereka "Cepatlah kembali karena suatu saat bisnis ini akan menjadi milik kalian." Entah kenapa, setelah lulus anak-anaknya tak pernah kembali. Dan akhirnya Ed mendapat masalah-masalah kepegawaian, karyawan menuntut naik gaji, peningkatan tunjangan, dan ingin hanya mengangkut satu ember sekali jalan.

Berbeda dengan Bill, dia sadar desa-desa yang lain juga membutuhkan air. Makanya ia menulis ulang rancangan bisnisnya dan pergi untuk menjual sistem penyaluran air bersihnya ke desa-desa di seluruh dunia. Ia hanya mendapat keuntungan satu penny untuk setiap ember, tapi ia mengirimkan miliaran ember air setiap harinya dan semua uang itu mengalir ke dalam rekening banknya. Bill telah membangun saluran pipa untuk mengalirkan uang bagi dirinya sendiri.

Belajar dari Robert Kiyosaki adalah untuk mereka yang sudah lelah mengangkuti ember dan siap membangun pipa agar uang bisa mengalir ke dalam kantong mereka….bukan ke luar kantong mereka.

Semoga bermanfaat, saya Tung Desem Waringin mengucapkan salam dahsyat!


Oleh: Tung Desem Waringin


(dnl/ang)


Sumber: DetikFinance.com

Thursday, July 19, 2012

Rhenald Kasali: Bukan "Franchise" yang Tumbuh, melainkan "Grobakchise"


Foto: Kompas.com

JAKARTA, KOMPAS.com — Guru Besar Fakultas Ekonomi UI Rhenald Kasali memandang, kecenderungan pertumbuhan, khususnya usaha mikro dan kecil yang dijalani anak muda perkuliahan di Indonesia saat ini, lebih pada usaha jajanan warung dan camilan ketimbang industri franchice. Rhenald menyebutnya sebagai usaha "grobakchice".

"Jadi yang tumbuh bukannya franchise, melainkan grobakchise. Masa para calon sarjana udahannya hanya (usaha) camilan. Para sarjana Indonesia yang berwirausaha hanya memikirkan camilan dan grobakchise," ujarnya, saat dihubungi Kompas.com, di Jakarta, Selasa (27/6/2012).

Bagi Rhenald, usaha kecil yang dijalani anak muda calon sarjana tersebut malah berdampak pada usaha kecil yang dilakoni rakyat kecil. Rakyat kecil tersebut, lanjut Rhenald, justru harus bersaing pasar dengan para wirausaha muda dari kalangan orang berpendidikan.

"Bukannya berinovasi melainkan bertempur dan menjadi musuhnya rakyat kecil. Nah ini semua karena kita terlalu hanyut dengan jargon usaha kecil, yang semasa krisis menjadi penyelamat ekonomi nasional," tutur Rhenald yang saat ini sedang berada di Perancis.

Keadaan seperti sekarang ini di Indonesia, menurut Rhenald, justru berbeda dengan usaha anak muda yang dijalani pada masa 1980-an silam. Ia mencontohkan, tokoh Sukanto Tanoto yang pada tahun 1980-an sudah memberanikan diri terjun dalam usaha pabrik bubur kertas. Lalu pada tahun 1990-an, ada Sudarpo, seperti halnya Tanoto, sudah berani masuk dalam usaha perkapalan, dan Hasyim Ning yang memulai kiprahnya pada usaha dealer mobil.

"Masa, tahun 2010-an ke sini, kita hanya berani jualan dawet dan camilan? Maka dari itu, visi industri harus dibangun. Ke mana menteri perindustrian dalam pengembangan pengusaha muda? Ke mana kredit-kredit industri? Ini saatnya kewirausahaan Indonesia direvitalisasi, diarahkan ke industri, khususnya energi terbarukan, lingkungan, dan inovasi," ungkap pria yang bergelar Ph D dari University of Illinois ini.

Ia menambahkan, anak muda tersebut jangan hanya bermental penumpang, tetapi harus punya mental seperti halnya pengemudi. Pengemudi yang kreatif dan punya keberanian mengambil risiko dan punya pemikiran strategis.

Mereka juga, lanjut Rhenald, harus mampu membangun jaringan dan khususnya memiliki mental sebagai pemenang. Baginya, lawan pemenang bukanlah loser, melainkan mereka yang berhenti. Dengan demikian, anak muda tersebut jangan mudah berhenti. Lalu Rhenald menambahkan, pemenang itu bukan mereka yang tak pernah jatuh atau kalah, melainkan yang tak pernah berhenti. Adapun yang kalah adalah mereka yang berhenti.

"Lalu impiannya harus jadi pengusaha besar, yakni industri, bukan bertarung dengan rakyat kecil di kaki lima," tutur Rhenald Kasali yang pernah menerima Piagam Penghargaan Satya Lencana Karya Satya 10 Tahun dari Presiden Republik Indonesia ini pada 2004 silam.


Editor :Erlangga Djumena


Sumber: Kompas.com

Kenali Cara Industri Besar Berinovasi


Foto: Kompas.com

JAKARTA, KOMPAS.com -  Ada motivator yang sering mengemukakan ide ATM alias Amati, Tiru dan Menambahi untuk menghasilkan produk inovatif. Cara ampuh paling bisa dilakukan adalah  kenalilah cara-cara industri besar dunia dalam berinovasi.

Aneka cara inovasi itu disampaikan Dekan PPM Manajemen Martinus Sulistio Rusli di Jakarta, Selasa (17/7/2012). Sulistio memaparkan inovasi yang dilakukan Apple justru terletak pada kekuatan talenta Chief Executive Steve Job (almarhum). Sementara, Google justru meyakini kekuatan kebebasan kreatif karyawannya. "Ini merupakan scientific freedom of employees," ujar Sulistio.

Kita lihat juga industri besar lain. Toyota memegang kedekatan kerjasama dengan supplier, BMW lebih pada kekuatan desain, P and G menggunakan sumber-sumber teknologi eksternal, dan Samsung justru mengandalkan kecepatan dalam pengembangab produk.

Nah, bagaimana perusahaan Anda untuk mengembangkan inovasi?


Sumber: Kompas.com

Riyadh, Jutawan Muda Berkat Bisnis Gorengan


Foto: Kompas.com

KOMPAS.com - Kendati usianya masih muda, Riyadh Ramadhan sudah berani memulai usaha. Di usia 19 tahun, ia sudah memiliki bisnis gorengan di Surabaya dengan omzet ratusan juta per bulan. Bisnis ini dirintisnya tahun 2009, saat ia masih berusia 16 tahun.

Saat itu, ia baru duduk di kelas satu sekolah menengah atas (SMA). Lantaran usianya yang masih belia, ia pernah dinobatkan sebagai Entrepreneur Termuda 2010 versi Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah.

Riyadh memulai bisnis secara autodidak. Semua berawal dari kegemarannya memasak. Suatu ketika, naluri bisnisnya bangkit setelah melihat peluang usaha gorengan. "Saya melihat di Surabaya banyak penjual gorengan, lalu saya berpikir untuk membikin sendiri," kata Riyadh.

Keinginan untuk berbisnis itu kemudian diutarakannya kepada kedua orangtuanya. Walau masih muda, orangtua Riyadh menyambut baik keinginan anaknya itu untuk berbisnis. Kebetulan, orangtua Riyadh memang memiliki jiwa bisnis.

Mereka berprofesi sebagai wiraswasta. Namun, usaha yang mereka kelola bukan bergerak di bidang makanan. "Mereka mengelola lembaga pendidikan," ujar Riyadh.

Jualan di sekolah

Tekad Riyadh Ramadhan untuk memiliki bisnis di usia muda sangat kuat. Karena tekad yang kuat itu, ia pun tak risih meski harus harus memulai usaha dari menjajakan gorengan di sekolahnya.

Riyadh memang mengawali kesuksesan bisnisnya sebagai penjual gorengan. Pertama menjadi penjual gorengan, dia membidik teman-teman sekelasnya sebagai konsumen.

Setiap jam istirahat sekolah, Riyadh tidak sungkan mengeluarkan dagangan yang ia bawa setiap hari dari rumah. Sebagai remaja yang baru duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA), sebenarnya dia agak canggung dan malu berjualan di sekolahnya.

Apalagi, Riyadh juga sering menjadi bahan olok-olokan dari teman-teman sekolahnya. "Beberapa nada sumbang berupa ejekan sempat terdengar dari teman," kenangnya.

Bukannya berhenti, makin lama makin banyak teman yang mengejeknya sebagai penjual gorengan. Awalnya, ia sempat minder dan ingin mundur dari bisnisnya itu.

Namun, Riyadh tetap berpikir positif bahwa apa yang ia lakukan sudah tepat. Lagi pula, dia merasa tidak ada yang dirugikan dari bisnisnya itu.
Sementara bila mundur, keinginannya untuk memiliki usaha akan pupus. "Orangtua saya juga sering menguatkan mental saya untuk tidak mundur hanya karena mendapat ejekan dari teman," ujarnya.

Atas dorongan orang tuanya, Riyadh berusaha membuang jauh-jauh semua perasaan sakit hati yang ia alami di sekolah. Namun, seiring berjalannya waktu, justru banyak temannya yang mulai menyukai gorengannya. Bahkan,teman-teman yang tidak sekelas dengannya juga ikutan meminati gorengan buatan Riyadh.
Lantaran pesanan gorengannya makin banyak, ia selalu berusaha bangun tidur lebih awal untuk mempersiapakan dagangannya. Riyadh selalu bangun tidur jam tiga dinihari setiap hari. Di pagi buta itu, dia menyiapkan semua bahan yang diperlukan, termasuk meracik sendiri tepung gorengannya. "Saya menjalani semuanya dengan semangat," katanya.
Selama setahun menjajakan gorengan di sekolah, ia pun mulai terpikir untuk mengembangkan usahanya. Hingga suatu saat Riyadh menemukan ide untuk membuka kafe di mal.
Lagi-lagi, orangtuanya mendukung penuh rencananya tersebut. Berbekal keuntungan usaha selama setahun serta sokongan dana dari orangtuanya, Riyadh pun mulai merintis pendirian kafe di salah satu mal di Surabaya.
Riyadh memberi nama kafe itu Go Crunz, yang sampai sekarang masih menjadi label usahanya. Di kafe itu ia menyediakan menu gorengan, seperti kentang, jamur, ayam, dan otak-otak ikan.Selain gorengan, ia juga menyediakan beragam pilihan minuman. Tak ingin mengecewakan orangtua yang sudah mendukungnya dan juga tanggung jawab terhadap diri sendiri karena uang tabungannya ludes untuk modal usaha, Riyadh pun total di bisnis ini.
Dengan label Go Crunz, ia menawarkan menu gorengan, seperti kentang, jamur, dan ayam, hingga otak-otak ikan. "Total ada sembilan menu gorengan," katanya.
Gorengan itu dibanderol Rp 6.000-Rp 9.000 per kotak. Setiap kotak berisi empat sampai lima gorengan. Ternyata, banyak yang menyukai gorengan buatan Riyadh. Lalu dia membuka dua gerai lagi dengan konsep booth.
Dari ketiga gerai itu, total omzet yang didapatnya mencapai Rp 120 juta per bulan, dengan laba sekitar 40 persen dari omzet. Lantaran respon pasar positif, sejak tahun 2010, Riyadh resmi menawarkan kemitraan usaha. Saat ini, jumlah gerainya sudah 12 gerai.Perinciannya, tiga milik sendiri dan sisanya milik mitra. Mitra usahanya itu tersebar di beberapa kota, seperti Jakarta, Bekasi, Malang, hingga Balikpapan.
Dalam kemitraan ini, ia menawarkan dua paket investasi. Yakni, paket booth sebesar Rp 39 juta dan paket kafe Rp 110 juta. Berdasarkan pengalamannya, omzet paket booth ditargetkan Rp 500.000-Rp 700.000 per hari. Sementara paket kafe Rp 1,5 juta-Rp 2 juta per hari.Dalam kemitraan ini, ia memasok bumbu dan kemasan kepada seluruh mitra bisnisnya.
Guna mengembangkan usahanya, ia kemudian menawarkan kemitraan pada Oktober 2010. Guna menjaring mitra, Riyadh rajin mengikuti pameran waralaba di daerahnya.Kerja kerasnya tidak sia-sia. Di bulan pertama menawarkan kemitraan, ia sukses menjaring tujuh mitra.

Metode kekeluargaan

Sukses di usia muda mungkin menjadi impian banyak orang, begitupun Riyadh Ramadhan. Ia tak menyangka, bisnisnya akan tumbuh cepat. Toh begitu, tak mudah membangun bisnis di usia belia.

Riyadh mengaku banyak kendala yang ia hadapi. Misal, ia sempat kesulitan membuat sistem manajerial usaha yang baik. Alhasil, ia sering gonta-ganti karyawan lantaran kinerja pegawainya tak memuaskan. "Karena usia saya yang lebih muda, banyak karyawan yang tak menghormati saya sebagai pimpinan, sehingga kinerja mereka tak maksimal," terangnya.
Tak kehabisan akal, Riyadh pun rajin melahap buku mengenai manajemen dan kepemimpinan. Ia pun kerap mengikuti ajang entrepreneurship bagi anak muda seusianya.
Meski tak menyabet predikat sebagai juara, Riyadh tak berkecil hati. "Tujuan utamanya bukan juara, tapi lebih pada pembelajaran karakter dan jiwa kepemimpinan dari para pengusaha muda," ungkapnya.
Bukan sekadar memetik ilmu, dari ajang kompetisi itu Riyadh juga bisa membuka jaringan yang lebih luas. Dari situ, ia mulai belajar akan pentingnya manajerial usaha agar usaha makin berkembang. "Dalam usaha, pemasaran memang penting tapi belajar menjadi seorang pimpinan yang baik juga tak kalah penting," katanya.
Dari kompetisi tersebut, Riyadh mengaku pikirannya kian terbuka. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus ia benahi, terutama manajemen usaha. Hal utama yang langsung Riyadh lakukan adalah mengubah gaya kepemimpinannya.
Riyadh bilang, ia sekarang lebih tegas namun bukan berarti berubah jadi pribadi yang galak dan ditakuti karyawannya. Selain itu, ia mencoba menerapkan metode kekeluargaan dalam manajemen Go Crunz.
Dengan perubahan gaya kepemimpinan itu, sekarang manajemen usahanya jauh lebih solid. "Dalam beberapa bulan terakhir, tidak ada lagi gonta-ganti karyawan," jelasnya.
Bukan itu saja, menyadari bahwa ia adalah principal dari sebuah brand yang juga melibatkan orang lain, Riyadh menganggap semua mitra usahanya merupakan saudara dekatnya. Hal ini pula yang membuat dia cenderung lebih selektif memilih mitra usaha.
Salah satu patokannya memilih mitra adalah merasa klop saat pertama kali bertemu dengan calon mitra. "Jadi ada chemistry dalam berkomunikasi," ungkap mahasiswa jurusan Desain Manajemen IBMT International University ini.
Insting itulah yang akhirnya membuat Riyadh memiliki sembilan mitra. Dia mengklaim semuanya loyal dan memenuhi ekspektasi membesarkan franchise Go Crunz.
Kendati bisnisnya makin mengembang, tak membuat Riyadh cepat puas. Ia mengatakan, masih harus terus belajar agar usaha kian membesar.
Ia pun menyimpan mimpi bahwa merek Go Crunz dalam beberapa tahun ke depan bisa go international seperti Kebab Baba Rafi milik Hendy Setiono. Ia menyebut Hendy sebagai mentor andal dan telah menginspirasi dirinya. (Fahriyadi/Kontan)

Sumber: Kompas.com

Wednesday, July 18, 2012

Anda Seorang Pemalas? Ini Cara Mengatasinya


Foto: DetikFinance

Jakarta - Rasa malas bisa dialami oleh semua orang, termasuk kemalasan melakukan kegiatan penting untuk menuju sukses. Ini ada beberapa gagasan bagaimana mengalahkan rasa malas anda, dalam segala hal.

Berikut ini ulasan dari pakar marketing, Tung Desem Waringin soal mengatasai kemasalan:

Mereka sibuk dan mereka tetap sibuk karena itu salah satu cara untuk menghindari sesuatu yang tidak ingin mereka hadapi. Ada orang sibuk nonton TV, sibuk memancing, bermain golf, sibuk belanja ke Mall, namun didalam hati mereka ingin menghindari sesuatu hal yang tidak ingin mereka hadapi. Ini adalah bentuk kemalasan yang paling umum.

Malas dengan jalan tetap sibuk. Ada juga orang yang sibuk bekerja keras sehingga tidak perduli dengan istri dan anaknya. Dan ada juga orang yang terlalu sibuk mengurusi kekayaan mereka dan tidak perduli dengan kesehatan mereka. Dan ada orang yang terlalu sibuk mengurusi kesehatan dan tidak perduli lagi terhadap pekerjaan.

Yang menjadi ukuran malas adalah apa yang dianggap penting jauh di dalam lubuk hati mereka, tetapi mereka hindari.

Kata Robert Kiyosaki, 'Obat untuk kemalasan adalah sedikit ketamakan' Seringkali kita mendengar bahwa 'orang tamak adalah orang yang jahat' Namun dalam diri kita semua adalah nafsu/ hasrat untuk memiliki barang-barang baru atau bagus atau hal-hal yang menyenangkan. Jadi agar hasrat itu tetap terkendali, orang tua kita kerap kali menemukan cara-cara untuk menekan hasrat itu dengan cara menciptakan rasa bersalah.

Jadi, setiap kali Anda mendapati diri Anda menghindari sesuatu yang Anda tahu seharusnya Anda lakukan, maka satu-satunya hal yang Anda tanyakan pada diri Anda sendiri adalah 'apa untungnya untuk saya?' Bersikaplah sedikit tamak. Itulah obat yang terbaik untuk kemalasan. Akan tetapi, terlalu tamak, seperti apapun lainnya yang berlebihan, tidaklah baik.

Menurut saya pribadi, bagaimana menghilangkan rasa malas kita harus mempunyai alasan yang sangat kuat. Dan alasan yang sangat kuat adalah menghindari sengsara dan mencari nikmat.

Bila kita sedang malas, bayangkan, dengarkan dan rasakan penderitaan yang amat sangat dengan detail dan emosionil (tulis minimal 10 kerugian) bila kita masih bermalas-malasan atau tidak melakukan hal-hal yang penting, dan bayangkan, dengarkan dan rasakan kenikmatan yang amat sangat secara detail dan emosionil (tulis minimal 10 kenikmatan) bila kita sudah mulai rajin dan melakukan hal-hal yang penting.

Penderitaan dan kenikmatan ini bukan hanya sekarang, tapi 1 tahun kedepan, 5 tahun kedepan, 10 tahun kedepan dan 20 tahun kedepan.



(hen/hen)

Sumber: DetikFinance

Pengusaha Ini Sukses 'Menyulap' Benang Jahit Jadi Lampion Cantik


Foto: DetikFinance

Banyumas - Perajin lampion asal Banyumas, Jawa Tengah, Marta Afrianto tak pernah berpikir menjadi seorang pengusaha. Berawal dari iseng-iseng karena istri sakit, kini ia menjadi produsen lampion dan memiliki 5 karyawan.

Sosok pria berusia 25 tahun ini, kini kerepotan memenuhi pesanan lampion dan lampu tidur beraneka macam bentuk karakter kartun yang terbuat dari benang jahit. Pesanan pun mengalir dari berbagai kota di Indonesia.

"Awalnya iseng-iseng, karena istri sakit, kalau malam mau ngapain terus saya iseng-iseng buat. Kebetulan lihat kakak juga buat kerajinan ini cuma dia buat hanya 1 macem. Kita coba berinovasi dengan membuat bentuk karakter kartun yang digemari anak-anak yang sedang tren seperti angry birds, hello kitty, mickey mouse, donald bebek serta lampu gantung," kata Marta kepada wartawan di rumahnya, di Desa Pasir Lor, Kecamatan Karanglewas, Banyumas, Senin (9/7/2012).

Selain membuat kerajinan lampion dan lampu tidur yang disesuaikan dengan karakter tokoh yang sedang naik daun. Bisnisnya yang sudah berjalan selama 1 tahun ini terus berkembang setelah pemasarannya merambah ke dunia online.

"Dulu saya buat polos. Tapi karena kendala pemasaran saya coba download-download gambar, coba cari terus hingga mulai ada inovasi-inovasi untuk dari karakter tersebut untuk pemasaran. Ternyata pangsa pasarnya bagus sampai saya keteteran. Saat ini saya masih berani ke pesanan-pesananan saja lewat online. Kita belum berani nyetok," jelasnya.

Menurut Marta, cara membuat kerajinan ini lumayan rumit. Hingga saat ini, karyawannya belum mampu membuat aneka macam lampu dengan berbagai bentuk.

"Baru saya yang bisa membentuknya, pekerja lain paling hanya bisa menggunting, menggulung benang, pasang mata, telinga. Kita masih kesulitan mengajari dan mencari orang untuk membentuk karena harus telaten," tuturnya .

Cara membuatnya diawali dari balon biasa yang di pompa kemudian diberi lem kayu, lalu balon tersebut digulung menggunakan benang jahit yang di double menjadi dua. Setalah itu dilapisi benang yang digulung-gulung hingga 3 kali sambil diberi lem kayu hingga 4 lapisan lalu dijemur. Setelah kering pada bagian tertentu dipotong dan balonnya di keluarkan sehingga terbentuk lah sebuah bulatan. Lalu tahapan selanjutnya merangkai kabel dan lampu.

"Kalau sudah kering dan terbetuk baru kita bentuk-bentuk seperti menambahkan mata, telinga. Dan ketika semuanya sudah selesai baru kita berikan lampu didalamnya," ungkapnya.

Buah tangannya kini sudah tersebar ke berbagai wilayah di Indonesia, antaralain ke Jember, Kalimantan, Jakarta, Bandung, Bali termasuk di Banyumas. Harga yang dipatok per lampu pun hanya Rp 50.000 hingga Rp 120.000 tergantung bentuk dan ukuran. "Pesan terbanyak itu ke Jember, dua minggu sekali 50 buah lampu tidur berbagai macam ukuran dan model," tambahnya.

Ia mengaku kerepotan memenuhi pesanan produknya yang terus diminati banyak konsumen. Saat ini hanya ada 5 pekerja yang membantunya membuat kerajinan tersebut.

"Ada 5 pekerja, tapi kita tetap kerepotan untuk pesanan. Karena pekerjanya kurang, kadang malah kita suruh yang kerja membawa pulang biar bisa dia dikerjakan dirumah juga," tutupnya.

Alin Light Craft
Perum Pasir Indah Blok G.4 Desa Pasir Lor, Kecamatan Karanglewas, Banyumas, Jawa Tengah.



(arb/hen)


Sumber: DetikFinance

Tuesday, July 17, 2012

Andianto Setiabudi (Pendiri Cipaganti Group): Belajar Dari Krisis


Foto: Bisnis.com

Berbagai masalah terus mengikuti kesuksesan Andianto Setiabudi. Bagi pemilik Cipaganti Group ini, masalah justru memacunya menemukan solusi jitu dan semakin bijak dalam membuat keputusan.

Tidak heran jika Cipaganti yang berawal dari showroom mobil bekas, kini menjelma menjadi sebuah perusahaan besar yang merambah berbagai sektor, mulai dari travel, taksi, sewa alat berat, pertambangan, hingga perhotelan. Berikut wawancara Bisnis dengan pria bersahaja itu baru-baru ini.

Bagaimana awal berdirinya  Cipaganti?

Usaha saya dimulai di Bandung pada 1985, ketika otomotif booming. Sebelumnya, saya membantu orang tua memproduksi makanan ringan pada 1979 hingga lulus SMA 1981, sampai akhirnya orang tua saya meninggal pada 1986.

Mulai 1985, saya mencoba berdagang mobil bekas, dimulai dari canvassing [reparasi] armada mobil boks bekas untuk angkutan makanan ringan itu. Awalnya, punya tujuh unit dan sebagian yang agak tua direparasi sebelum dijual, kemudian saya beli lagi yang baru.

Belajarnya dari situ, pengalaman mempercantik mobil, memasarkan, mencari mobil yang bisa untung. Pelan-pelan, saya memasarkan mobil jenis lain, seperti jeep. Bisnis terus berjalan, saya bermitra dengan beberapa teman dan armada terus bertambah.

Jual beli mobil ternyata lebih menguntungkan, pelan-pelan modal dari bisnis makanan ringan saya alihkan ke bisnis baru itu. Apalagi bisnis makanan saat itu kurang bagus sejak orang tua meninggal. Saya membuat kerupuk, kue tambang, sukro, kacang Bandung.

Bisnis makanan ringan akhirnya saya tutup pada 1987. Waktu itu, putaran uang cepat, partner yang biasa beli mobil ikut bergabung. Modal menjadi besar dan armada bertambah. Waktu itu ada mahasiswa yang mengajak orang tuanya H. Maksum, pemilik otobus Senang Hati, bergabung. Kami kemudian mendirikan Cipaganti Motor.

Saya mengoperasikan lima showroom, ditambah satu yang belum jadi. Pada 1987-1991, saya sempat punya enam showroom dengan jumlah mobil sekitar 150 unit.

Bagaimana Anda akhirnya masuk ke bisnis travel?

Pada masa itulah saya buka relasi dengan perbankan, pemerintah daerah, properti, leasing dan lain-lain. Relasi sangat luas. Namun, pada 1991 terjadi tight money policy, kebijakan uang ketat, stok mobil saya tidak bergerak.

Orang tidak berani beli mobil karena bunga tinggi, Suplai di pasar berlimpah, harga turun. Saya juga tidak berani jual murah karena rugi. Akhirnya saya tahan stok, sebab penga laman 6 tahun berbisnis mobil bekas tidak pernah harga turun.

Jual mobil itu soal waktu saja, ada mobil yang cepat terjual dan ada yang lama terjual. Jadi saya pikir 2-3 bulan akan normal lagi, ternyata kondisi tidak bagus-bagus juga, harga mobil turun terus. Nilai stok saat itu saya hitung-hitung tinggal 60%-an aki bat harga turun, beban bunga yang tinggi, dan biaya operasi.

Padahal, saya pinjam bank untuk bayar mobil dan showroom. Saya putuskan tahan mobil hingga harga stabil. Relasi saya di perusahaan kontraktor juga kesulitan beli mobil karena bunga tinggi. Mereka usul bagaimana kalau mobil saya disewakan saja. Tapi saya belum mengerti bagaimana caranya, belum pernah ada yang menyewakan mobil saat itu di Bandung. Setelah dihitung-hitung, saya setuju. Saya dapat 4% per 20 hari, cukup untuk membayar bunga bank, biaya overhead dan menutup biaya yang lain. Saya pikir coba dulu, ternyata berjalan lancar. Namun, kalau cuma menyewakan enam unit tidak bisa menutup biaya, kebetulan cara menghitungnya sudah ketemu.

Saya pasang iklan waktu itu di koran Pikiran Rakyat dengan penyewaan cara leasing dengan mencontoh perjanjian leasing. Seluruh unit saya sewakan, syaratnya cukup dengan KTP. Saat itu booming, tetapi kendalanya sebagian besar mobil sudah tua. Pelan-pelan, saya ganti dengan armada baru, tetapi pola bisnisnya sudah berubah menjadi rental mobil.

Selama 1991-1994 banyak kejadian, mobil disewa untuk merampok, dijaminkan oleh penyewa, dikejar polisi dan ditembak sampai bolong-bolong. Banyak mobil yang ditahan di kantor polisi dan harus diurus satu per satu. Kalau sampai ada yang kehilangan nyawa, kami jadi saksi. Itu pelan-pelan saya benahi dengan membuat aturan yang lebih kuat. Sewa tidak boleh lepas kunci, kalau sewa jangka pendek harus pakai so pir. Tapi pasarnya waktu itu sudah terbuka.

Bagaimana persaingan bisnis saat itu?

Begitu Cipaganti meledak, semua ikut sampai usaha rumahan. Waktu itu memang masa booming rental sampai dengan 1995 dan mereka semua ikut cara saya. Sewa mobil lepas kunci, tetapi mereka juga banyak masalah.

Pasar terbuka, rental sudah dikenal oleh masyarakat, saya benahi dan pelan-pelan disewakan ke korporasi. Itu terus berjalan dan semakin teratur sistemnya. Dengan pengawasan yang lebih baik, bisnis berkembang. Kemudian buka lagi bisnis travel mulai 2000-an.

Pertama kali buka jurusan Bandung-Sukabumi, tetapi saya gagal. Kemudian, buka jurusan Bogor sukses, buka lagi jurusan Bandara Soekarno-Hatta sukses juga. Waktu itu belum ada jalan tol Cipularang, semua harus lewat Puncak.

Saya buka lagi jurusan Jakarta, terus jalan sampai dengan 2006 saat jalan tol Cipularang dioperasikan. Bisnis terus menggurita, saya kemudian buka sistem shuttle, bus pariwisata, kargo/paket, serta tour dan ticketing untuk mendukung angkutan bandara, dan terakhir bisnis taksi. Pada 2007 menjadi konsep transportasi terpadu dan setiap cabang Cipaganti melayani konsep itu. Bisnis travel pada 2000-an menjadi fenomena dan Cipaganti menjadi generik karena pemain pertama.

Apa ide awal sehingga ide bisnis travel tercetus?

Begini, sejak 2000 sudah ada travel door to door. Saat itu, di Jawa Barat travel seperti itu terkenal, ada Travel 4848 [Subur Ban]. Saya waktu kecil pun sudah naik travel itu. Kan saya sudah punya bekas showroom, sekalian saja dipakai untuk kantor travel. Kantor dan karyawannya diberdayakan.

Saya mengembangkan shuttle point to point karena lebih banyak trip. Kalau door to door Cuma sekali jalan, sedangkan shuttle bisa dua kali trip sehingga untungnya lebih besar dan konsumen pindah ke shuttle karena menghemat waktu.

Orang melihat Cipaganti itu sebuah perusahaan travel, bagaimana Anda bisa terjun ke bisnis lain?

Pada 1994, saya sudah masuk ke bisnis properti. Relasi terbuka waktu bisnis jual beli mobil. Dulu saya pernah sewa lahan untuk jemur kerupuk, lahannya luas sekali. Saat itu, saya kenal dengan bank, yang menawarkan bisnis perumahan. Waktu itu bisnis properti memang sedang bagus.

Konsepnya cari lahan, sementara kredit [KPR] rumahnya disiapkan oleh bank, dipasarkan bersama-sama. Saya kemudian mendatangi pemilik lahan jemur kerupuk itu dan mengajaknya bekerja sama. Ternyata perumahan itu laku, kemudian saya bangun lagi di daerah lain.

Pada 1995, secara kebetulan, saya masuk ke bisnis alat berat. Saya kan juga menyewakan mobil ke perusahaan tekstil dan ternyata mereka perlu alat berat untuk penggantian mesin. Pabrik tesktil rutin mengganti mesin dan perlu alat berat untuk memindahkan mesin lama dengan yang baru.

Untuk memindahkan mesin itu perlu forklift, sehingga saya buka divisi forklift pada 1996-1997. Namun, forklift cuma untuk angkat barang 5-6 ton, sementara pabrik tekstil itu perlu memindahkan boiler yang beratnya 20-25 ton, jadi perlu crain.

Saya coba lagi sewakan crain, lalu divisinya menjadi Cipaganti Forklift dan Crain. Bisnis ini berjalan dengan baik sampai 1997. Pada 1998, Indonesia kena krisis moneter, rental mobil susut, begitu juga alat berat. Perumahan tidak jalan karena bunga tinggi tetapi karena joint dengan pemilik tanah, saya tidak kena kredit bank, walaupun tidak bisa dipasarkan.

Pada 1999, bisnis mulai bergerak lagi. Pada 2000, saya masuk ke Bengkulu melalui keluarga saudara saya yang memimpin divisi alat berat. Ada perusahaan batu bara baru operasi dan perlu sewa ekskavator lima-enam unit, saya beli bekas dan kirim ke Bengkulu untuk buka lahan.

Sewa selama 1 tahun dan unit balik lagi. Ekskavator masih bagus, sewanya juga bagus, saya pikir lebih menguntungkan dari forklift dan crain.

Saya kan asal Banjarmasin. Di daerah itu banyak pertambangan batu bara, tetapi saya masih pikir-pikir karena jauh. Jadi sejak 2001, saya baru masuk pada 2004 ke Banjarmasin. Saya bawa ekskavator dan buldoser bekas, lalu diperbaiki. Ternyata di sana jadi rebutan, mereka bayar sewa dimuka.

Pada 2004, saat pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid ada otonomi daerah, kirim berapa pun alat berat habis disewa. Karena permintaan besar, saya bikin kontrak dengan Caterpillar dan United Tractor. Pada 2005, saya pesan ekska vator ke Caterpillar 100 unit, jumlah yang besar sekali pada waktu itu.

Saya sempat terima beberapa kali pengiriman masing-masing 10 unit sampai ada penertiban tambang pada saat Kapolri Sukamto. Semua tambang liar yang disebut juga tambang bupati ditertibkan. Pengusaha tambang tiarap semua, sementara saya sudah telanjur beli ekskavator. Saya bingung mau disewakan kemana alat berat itu. Akhirnya, usaha saya diam hampir 1 tahun di Banjarmasin, semua alat berat balik ke pool.

Saya pikir bakal repot kalau usaha itu tidak bergerak juga. Tadinya saya cuma fokus di Banjarmasin dan Batulicin, belakangan saya diversifikasi, tidak bisa hanya andalkan batu bara. Akhirnya saya sebar ke Kalimantan Tengah, masuk ke perusahaan perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri. Sebagian unit ditarik ke Bandung dan sewakan lagi ke Banjar untuk angkut pasir dan lain-lain.

Akhirnya divisi alat berat ini bukannya makin kecil, malah makin luas dan besar. Cabang kami sekarang sudah di tiga pulau, yakni Jawa, Sumatra (Pekanbaru, Muarabungo, Jambi), dan Kalimantan [kecuali Kalbar masih dipersiapkan]. Di Sulawesi kami akan masuk pada tahun ini, di industri nikel.

Bagaimana masa depan bisnis alat berat ini dan dampaknya ke bisnis Cipaganti secara keseluruhan?

Dengan terbukanya bisnis alat berat, saya menemukan kekuatan Cipaganti yang sesungguhnya saat ini. Kontribusi masih 50:50 antara otojasa dan alat berat, tetapi ke depan akan menjadi tulang punggung yang sangat kuat. Sebab alat berat ini sewanya bagus dan bisa masuk ke bisnis batu bara. Ini menjadi pendapatan yang saling mendukung.

Pada 2008, kami sudah masuk ke sektor mining. Dari penyewaan alat berat ini, mitra kami sebenarnya banyak yang menawarkan kerja sama. Saya sediakan alat, mereka siapkan kuasa pertambangannnya. Tapi saat itu saya belum berani, saya sewakan saja karena belum mengerti mining. Pakai kaca mata kuda.

Akhirnya, pada 2008 saya beranikan diri masuk sendiri. Kami urus langsung, teliti sendiri di lapangan, yang potensi diajukan perizinannya. Saat itu krisis ekonomi global, saya belum berani eksploitasi walaupun ada izinnya. Setelah kondisi ekonomi membaik pada 2009, saya baru gali di Penajam pada 2010. Luas lahannya cuma 100 hektare, itupun kerja sama dengan koperasi dan merangkul penduduk setempat.

Kami bahkan juga masuk ke bisnis lain, yaitu tambang pasir besi di Tasikmalaya. Sudah mulai produksi bahan baku dan lain-lain. Sedang disiapkan, kami sudah kumpulkan bahan baku dan tinggal produksi.

Pabriknya segera dibangun, sebelum aturan berlaku pada 2014. Sudah studi kelayakan, termasuk menyiapkan pelabuhan yang dekat dengan lokasi smelter-nya. Kandungan pasir besi yang dimiliki sekarang sekitar 20 juta ton.

Saya juga akan melangkah ke bisnis kelapa sawit, tetapi sementara masih perlu bisnis yang perputaran dananya lebih cepat, adanya di pertambangan. Sekarang fokusnya di batu bara dan pasir besi. Bisnis tambang kan bisa cepat, sekarang cuma 100 ha, tetapi beberapa tahun lagi bisa jadi ribuan ha, karena seluk-beluknya sudah tahu.

Bisnis Cipaganti terus menggurita. Apakah Anda juga bermimpi untuk masuk ke bisnis penerbangan?

He he… Ujung-ujungnya pasti ke sana. Kalau terintegrasi, tidak hanya di darat, tetapi juga laut dan udara.

Bagaimana Anda mengawasi bisnis yang makin besar?

Salah satunya dengan memperkuat teknologi informasi. TI disiapkan menjadi pengendali paling depan. Kami sedang menyiapkan layanan e-commerce. Sistem pembayarannya bekerja sama dengan bank. Intinya, kami komit dan concern untuk mengembangkan sistem online yang terintegrasi untuk memudahkan konsumen.

Jadi jaringan teknologi informasi (TI) harus kuat, tidak hanya untuk pemasaran, tetapi juga untuk pengawasan.

Sumber: Bisnis.com

Fitriyanto, si pembantu yang kini bos produk salon


Foto: Kontan.co.id


Fitriyanto hanya lulusan SMA. Tapi, berkat tekad yang diiringi dengan usaha keras, ia sukses menjadi produsen perawatan mobil merek Autofit. Pemilik PT Vitechindo Perkasa ini mampu membikin produk yang bisa bersaing dengan merek terkenal.

Hidup ini bagi Fitriyanto benar-benar sebuah perjuangan. Ia lahir dari keluarga sederhana, kalau tidak disebut miskin. Ayahnya hanya seorang tukang kayu. Tapi, dengan tekad yang bulat dan usaha yang kuat, Fitriyanto mampu menjadi seorang pengusaha produk perawatan mobil yang terbilang sukses.

PT Vitechindo Perkasa, perusahaan milik Fitriyanto, berhasil memasok produknya ke bengkel resmi milik agen tunggal pemegang merek (ATPM) besar, seperti Toyota, Daihatsu, Isuzu, Honda, Nissan, Hyundai, Suzuki, Kia, dan Mazda. Bisnis ini menghasilkan omzet Rp 8 miliar per tahun.

Label merek produk buatan Fitriyanto adalah Autofit. Saat ini, ada 20 produk merek Autofit yang sudah diproduksi, antara lain produk sampo, semir ban, pelumas, pembersih eva-porator (mesin pendingin), injection purge, cairan pembersih bahan bakar, pembersih blok mesin, pembersih karburator, dan pembersih ruang bakar mesin kendaraan.

Uniknya, untuk meracik Autofit, Fitriyanto sama sekali tidak memperdalam ilmu kimia secara formal. “Semua saya pelajari secara autodidak,” kata pria kelahiran Purbalingga, 10 November 1972 ini.

Ayahnya yang seorang tukang kayu tentu tak mampu menyekolahkannya tinggi-tinggi. Maka, ketika lulus SMA, pada tahun 1992, Fitriyanto langsung hijrah ke Jakarta. Anak bungsu dari lima bersaudara ini menjadi kuli bangunan.

Enam bulan menjadi kuli bangunan, Fitriyanto pindah menjadi tukang bantu-bantu di rumah Rachmat Gobel, kini Presiden Komisaris PT Panasonic Manufacturing Indonesia. Di rumah itulah ia ketemu dengan salah satu manajer Panasonic. “Saya ditawari kerja,” ujarnya. Ia lalu menjadi pegawai di Panasonic, divisi komponen, yang memproduksi semua speaker.

Di waktu senggang, Fitriyanto selalu meluangkan waktu untuk membaca buku kisah orang sukses. “Saya menghimpun tekad untuk menjadi orang sukses. Dari buku yang saya baca, orang sukses kebanyakan mengawali karier sebagai tenaga pemasaran (marketing),” kata suami Lihardiana ini.

Fitriyanto lantas hengkang dari Panasonic dan pada tahun 1995, ia menjadi tenaga pemasar di produsen minuman merek 2Tang. “Saya mendapat upah Rp 75.000 per bulan, jauh lebih kecil ketimbang jadi kuli bangunan. Ketika jadi kuli, upah saya Rp 60.000 per minggu,” kata Fitriyanto yang akhirnya keluar setelah tiga bulan bekerja di 2Tang.

Lantaran bertekad jadi tenaga pemasar, Fitriyanto kembali masuk ke perusahaan cokelat selama setahun, sebelum akhirnya pindah ke PT Prima Karya Gandareksa, perusahaan kimia. Ia tetap jadi tenaga pemasar, tetapi dengan gaji Rp 5 juta per bulan. “Saya banyak belajar tentang produk perawatan mobil di sini,” katanya. Lantaran kinerjanya bagus, perusahaan menugaskannya ke Bali. Tapi, ia memilih mundur lantaran tak ingin jauh dari keluarga. Selama setahun, ia beberapa kali pindah kerja di perusahaan kimia.

Fitriyanto akhirnya masuk ke perusahaan produk perawatan mobil dari Jerman. “Di perusahaan ini, saya suka memperhatikan para peracik produk. Saya pelajari, bahan apa saja yang diramu menjadi produk perawatan,” katanya. Setiap Sabtu dan Minggu, dia pergi ke toko kimia untuk mempelajari bahan-bahan kimia yang bisa diramu menjadi produk perawatan mobil. Dia bertahan selama lima tahun di perusahaan itu sebelum akhirnya mengundurkan diri dengan posisi gaji terakhir Rp 24 juta per bulan.


Pinjam uang ke bank

Pengalaman selama 10 tahun di perusahaan pembuatan produk perawatan mobil membuat Fitriyanto percaya diri untuk memulai usaha sendiri. “Sebagai tenaga pemasar, saya sudah memegang banyak pelanggan. Saya juga sudah bisa membuat produk sendiri,” katanya.

Dengan memanfaatkan bengkel sepeda motor di Cikeas, Bogor, yang didirikan saat masih bekerja, pada 2007, Fitriyanto memulai usaha produk perawatan mobil. “Saat itu, cuma ada satu montir dan tempatnya sangat sederhana,” kenangnya. Di bengkel itu, dia meracik bahan setelah memenangi tender pengadaan produk perawatan mobil dari salah satu bengkel mobil besar.

Lantaran tak punya modal, Fitriyanto mencari pinjaman bank sebesar Rp 25 juta. “Karena tidak ada agunan, modalnya hanya kepercayaan. Bank itu menjadi pelanggan di bengkel kami,” katanya. Dari modal Rp 25 juta, ia bisa menghasilkan omzet Rp 80 juta. Tiga tahun berjalan, usahanya semakin besar. Dengan pinjaman bank yang lebih besar, dia membuka pabrik di daerah Cipayung, Jakarta Timur, dan mendirikan PT Vitechindo Perkasa.

Saat ini, Fitriyanto memiliki 35 karyawan dan sejak awal bulan Juni 2012, dia membuka lembaga kursus bahasa Inggris dan komputer. “Saya sendiri tak bisa mengoperasikan komputer,” katanya sambil tertawa. Ia juga membuka sekolah taman kanak-kanak sembari menjalankan usaha bengkelnya.

Sumber: Kontan.co.id