Showing posts with label business. Show all posts
Showing posts with label business. Show all posts
Friday, August 3, 2012
KIAT MANAJEMEN: Nilai Integritas Dalam Pemasaran
Konsep integritas merupakan konsep yang universal. Konsep ini sudah mendominasi dalam area politik dan pemerintahan. Indikator kurangnya nilai integritas antara lain banyak kasus penyalahgunaan wewenang atau istilah yang sangat populer saat ini adalah banyak korupsi.
Namun demikian, nilai integritas tidak hanya berkaitan dengan aspek politik, hukum, maupun pemerintahan, tetapi konsep integritas penting dijadikan landasan dalam mengembangkan strategi pemasaran. Umumnya, nilai integritas ada dalam nilai-nilai yang sudah ditetapkan oleh perusahaan.
STRATEGI BISNIS: Kristal Kepercayaan
Kenangan depresi besar atau great depression mulai muncul lagi di benak para ekonom. Setiap kali membaca berita perekonomian dunia, seakan-akan selalu muncul istilah ‘tidak becus’ dan ‘ketidakmampuan’. Maka, bayangan miris tentang depresi perekonomian yang melanda berbagai belahan bumi seusai Perang Dunia II pun menjadi ‘hantu’ di berbagai prediksi.
Apakah sesungguhnya para pengambil kebijakan dunia itu memang tidak becus? Benarkah lulusan dari Harvard itu kurang cerdik menangani krisis di Amerika Serikat? Para staf ahli menteri di Eropa itu tidak mampu merumuskan formula tepat terhadap berbagai krisis di beberapa negara?
Thursday, August 2, 2012
RISET COMSCORE: 25,6% Pengguna Ponsel Di Amerika Serikat Pakai Samsung
JAKARTA: Sekitar 25,6% pengguna ponsel di Amerika Serikat menggunakan ponsel keluaran Samsung. Data tersebut berasal dari riset comScore Inc, perusahaan riset digital dunia. Riset itu digelar terhadap 30.000 pelanggan seluler di Amerika Serikat selama 3 bulan yang berakhir Juni 2012.
Pangsa Google Android terus tumbuh di pasar ponsel pintar di Amerika Serikat, terhitung 51,6% dari pelanggan ponsel pintar. Sementara, Apple meraih 32,4%.
Wednesday, August 1, 2012
Harga Minyak Turun, Laba BP Anjlok Rp 19 Triliun
Jakarta - Pendapatan BP anjlok 35% di triwulan II-2012 karena melemahnya harga gas alam dan minyak AS serta penurunan produksi. Grup minyak asal Inggris ini melaporkan laba US$ 3,7 miliar (Rp 35,2 triliun). Turun jauh dibanding laba tahun lalu yakni US$ 5,7 miliar (Rp 54,2 triliun).
Monday, July 16, 2012
Pengusaha "Happy", Uang Mengikuti
Foto: Kompas.com
JAKARTA, KOMPAS.com — Pebisnis harus merasa senang dalam memulai dan mengerjakan usahanya. Bila dia senang maka uang pun akan mengikuti. Demikian inti dari happynomic rules ala Chief Creative Officer of Oh My Goodness (OMG) Creative Consulting, Yoris Sebastian.
"Kalau kita happy, kita suka dengan karyanya, itu menurut saya the money will follow," ujar Yoris kepada Kompas.com, Kamis (12/7/2012).
Yoris menjelaskan, dalam memulai usaha, pelaku usaha diharapkan bisa senang terlebih dahulu. Senang akan karyanya. Happy, kata Yoris, adalah dasar dalam berusaha.
Happynomic sendiri, menurut Yoris, bukan sesuatu yang terlalu berstruktur. Happy bukan berarti passion. Pasalnya, pelaku usaha tetap harus bekerja secara realistis. Usaha harus bisa membiayai kebutuhan sehari-hari. "Tidak semua orang beruntung bisa bekerja dengan passion dia. Ini (usaha) harus ada nilai ekonominya," kata Yoris yang pernah memenangi Asia Pacific Entrepreneur Award tahun 2008.
Yoris pun memberikan nasihat agar pelaku usaha berhati-hati bila bekerja dengan dasar mewujudkan passion-nya. Usaha dengan passion itu harus diyakini terlebih dahulu. "Hati-hati kalau kita ngejar passion terus kita main lompat saja. Tiba-tiba keretanya salah kan gawat. Jadi jangan cabut dulu. Kerjain apa pun yang saat ini realistis kita dapat," tuturnya.
Akan tetapi, Yoris pun menegaskan, jangan sampai uang menjadi nomor satu atau fokus utama. Happy atas karya usaha harus menjadi yang utama. "Tapi ekonomi atau uang, buat saya—dari dulu sebagai sebuah karyawan, top level management, ataupun sekarang sebagai owner—selalu money is number two, three. Selalu happy-nya dan karyanya yang utama," papar dia. "Happynomic itu lebih ke personal," tegas Yoris.
Editor :A. Wisnubrata
Sumber: Kompas.com
Thursday, July 12, 2012
Korporasi : Memelihara Kepercayaan
Foto: Kompas.com
JAKARTA, KOMPAS.com - Usahawan Sudhamek Agoeng menelepon teman dekatnya dan berkata, ”Lowongkah engkau siang ini? Ayo makan di kantorku. Ada makanan dari rumah.” Sudhamek tampak penuh ria tatkala temannya mengiyakan ajakannya.
Pukul 12.05, teman Sudhamek tiba dan mereka kemudian makan-minum sambil bercerita panjang lebar. Percakapan mereka kerap diselingi derai tawa. Dan, karena lezat, 60 persen makanan itu tandas.
Makanan khas rumahan itu sederhana. Tidak dalam wujud spektakuler sebagaimana biasanya makanan restoran kelas satu. Namun, karena kedua sahabat itu memang bersahaja, segalanya mengalir wajar. Hal yang menarik, mereka bercakap-cakap tentang pertumbuhan perusahaan yang menakjubkan. Sudhamek, Chief Executive Officer Garudafood, bercerita tentang ekspor produknya di 23 negara di lima benua berjalan mulus. Ia menyiapkan ekspansi dalam lingkup amat luas.
Menyukai makanan dari rumah ini tampak pula pada sejumlah usahawan , di antaranya Ciputra, Sukanta dari Grup Sinar Sahabat, dan Trihatma Haliman dari Grup Agung Podomoro. Mereka pun akrab dengan baju batik, kemeja polos.
Trihatma bertutur, mereka bersahaja karena sudah menjadi kebiasaan ketika memulai karier dari level paling bawah. Pulang sekolah dari Jerman, ia bekerja bersama para tukang, pengangkat bata dan pasir. Ketika sukses membawa Agung Podomoro sebagai megagrup properti, sikapnya tidak berubah. Tetap menyukai makanan dari rumah yang dikerjakan istri, dari sinilah tumbuh spirit dan ketekunan luar biasa.
Ia mengatakan, kesederhanaan menggugah kita berpikir dalam spektrum luas dan dalam. Kalau merancang megaproyek, misalnya, selalu bening, lurus, tidak ruwet. Ribuan karyawan ditangani dengan sikap sama, tidak membeda-bedakan.
Kepada anak buahnya, ia suka menggugah mereka agar tidak telantarkan keluarga. Hiduplah sesuai dengan kemampuan, jangan banyak kebutuhan. Terlampau banyak kebutuhan biasanya menjerumuskan seseorang bertindak ilegal demi pemenuhan kebutuhannya. ”Ich bin aus dem einfachen Leben glucklich (saya berbahagia karena hidup sederhana),” katanya.
Perilaku ugahari, tambah usahawan Sukanta, juga mendorong seorang pengusaha menjadi lebih ulet, tidak lupa daratan. Ia bercerita, sejumlah usahawan besar Indonesia lahir dari bilik-bilik kecil di Jalan Pintu Kecil. Dulu, tahun 1950-an hingga awal 1970, pintu kecil dijuluki ”Wall Street” Indonesia karena aktivitasnya sebagai pusat perdagangan dan bisnis berspektrum luas. Yang menarik, kendati menjadi usahawan besar, termasuk eksportir tekstil yang masyhur, para pebisnis mantan ”Pintu Kecil” itu tetap bersahaja. Mereka mengenakan celana pendek, lengan pendek, bahkan kalau berada di biliknya hanya mengenakan kaus dalam cap Swan karena udara sangat pengap.
Dari kesederhanaan sikap itu, tumbuh saling percaya. Kata Sukanta, ”Dulu mana ada cek dan akta notaris. Seseorang bisa mengambil barang dari pedagang lain senilai ratusan juta rupiah (angka amat besar pada masa itu) hanya dengan anggukan kepala. Namun, semua pinjaman dikembalikan tanpa cacat. Sekarang gaya bisnis seperti itu sudah lesap, sejalan dengan melemahnya sikap hidup sederhana dan menurunnya saling percaya.
Tentu kini sudah sulit kembali ke langgam seperti itu. Namun, sikap bersahaja, dan dari situ lahir lompatan-lompatan bisnis besar, sangat memungkinkan. Gaya boleh, tetapi kualitas kerja jauh lebih penting.
Editor :Rusdi Amral
Sumber: Kompas.com
Subscribe to:
Posts (Atom)




