Showing posts with label ekonomi. Show all posts
Showing posts with label ekonomi. Show all posts

Thursday, July 26, 2012

Tidak Ada Aturan, Gaji Bankir Bisa Miliaran


JAKARTA, KOMPAS.com — Bank Indonesia (BI) dinilai tidak berhak mengatur jumlah remunerasi dan gaji para direksi dan bankir. Hal itu disebabkan tidak ada aturan dari BI agar bank melakukan standardisasi gaji para direksi dan bankir ini.

Wakil Ketua Komisi XI dari Fraksi Partai Golkar Harry Azhar Azis menjelaskan, perbankan di Indonesia saat ini menganut pasar bebas sehingga bebas mengatur keuangan, khususnya gaji maupun remunerasi direksi dan bankir. "BI sampai saat ini tidak bisa mengatur gaji dan remunerasi bankir karena tidak ada regulasi yang mengaturnya. Yang bisa dilakukan BI cuma imbauan," kata Harry kepada Kompas.com di Jakarta, Jumat (20/7/2012).

Thursday, July 12, 2012

EKONOMI ASIA: Was-was krisis, ADB pangkas proyeksi ekonomi Asia



Foto: Kontan.co.id


BANGKOK. Krisis Eropa makin menjalari Asia dan sudah menghambat pertumbuhan di China dan India. Atas dasar itu, Asian Development Bank (ADB) memangkas lagi proyeksi pertumbuhan negara-negara Asia tahun ini.
President Haruhiko Kuroda hari ini menyatakan, Asia kecuali Jepang hanya akan tumbuh 6,6% di tahun 2012. Angka ini lebih rendah ketimbang proyeksi ADB di April lalu yang sebesar 6,9%.
Kemudian di tahun 2013, Asia akan tumbuh 7,1% dibandingkan proyeksi sebelumnya 7,3%.
Kuroda juga merevisi angka pertumbuhan ekonomi India tahun ini, dari 7% sebelumnya menjadi 6,5 %. Begitu pula dengan ekonomi China, ADB menurunkan prediksinya dari 8,5% menjadi tinggal 8,2%. “Penurunan harga minyak mengurangi risiko inflasi di Asia. China punya ruang untuk menjalankan kebijakan fiskal,” jelasnya.

Sumber: Kontan.co.id

Cadangan melorot dalam, harga minyak kembali naik



Foto: Bisnis.com

MELBOURNE. Harga kontrak minyak dunia kembali mencatatkan kenaikan di New York. Data Bloomberg menunjukkan, pagi tadi, harga kontrak minyak untuk pengantaran Agustus naik sebesar 39 sen menjadi US$ 86,20 per barel di New York Mercantile Exchange. Pada pukul 09.04 waktu Sydney, kontrak yang sama berada di level US$ 86,12 per barel.
Kemarin (11/7), harga minyak mencatatkan kenaikan sebesar US$ 1,90 menjadi US$ 85,81 sebarel. Meski demikian, sepanjang tahun ini, harga minyak sudah melorot sebesar 13%.

Kenaikan terjadi setelah cadangan minyak AS mencatatkan penurunan lebih banyak ketimbang estimasi analis. Asal tahu saja, menurut Departemen Energi AS, cadangan minyak melorot 4,7 juta barel pada minggu lalu. Sejumlah ekonom memprediksi, cadangan minyak hanya akan turun sebanyak 1,38 juta barel.

Di sisi lain, produksi di penyulingan minyak juga meningkat ,di mana kapasitas produksinya mencapai 92,7%. Ini merupakan yang tertinggi sejak Juli 2007 lalu.

Sementara itu, harga kontrak minyak jenis Brent untuk pengantaran Agustus naik 2,3% menjadi US$ 100,23 per barel di ICE Futures Europe exchange.

Sumber: Bisnis.com

Tuesday, July 10, 2012

Hal Penting Sebelum Open Market




Foto: MonexNews

Monexnews -


  1. EUR/USD dan EUR/JPY melemah pasca rilis data perdagangan China bulan Juni yang menjelaskan adanya penurunan angka impor. AUD sedang dalam proses mencetak pergerakan bearish dalam grafik jangka pendek setelah sempat mencapai tingginya di 1.0210 terkait data surplus perdagangan China yang langsung disambut aksi jual.
  2. Indeks bursa saham Hong Kong, Hang Seng, membukukan penguatan tipis ditengah ramainya aksi choppy trading menjelang data perdagangan China hari Selasa, dengan beberapa saham property dan saham-saham yang berorientasi ekspor ke Eropa yang bergerak naik setelah Uni Eropa sepakat untuk membantu Spanyol. Kospi naik 0.2% ke 243.10 di tengah minimnya momentum baru dan berlanjutnya kecemasan atas pelemahan ekonomi global. Indeks bursa saham Jepang, Nikkei bergerak naik tipis di awal sesi perdagangan hari Selasa ini, dengan indeks Nikkei yang bergerak naik 0.5%.
  3. Minyak naik untuk pertama kalinya dalam 3 hari seiring aksi mogokburuh mengancam produksi minyak dan gas lepas pantai di Norwegia, eksportir minyak terbesr Eropa Barat.
  4. Eropa menyediakan perpanjangan waktu untuk Spanyol hari Selasa ini, dengan menyepakati adanya perpanjangan waktu untuk target defisit anggaran Spanyol dan semakin dekat dengan penyediaan upaya penanganan masalah perbankan Spanyol.

(ar)

Lihat Disclaimer

sumber: MonexNews.com

Memahami Faktor Pencetus Inflasi Indonesia



Foto: Kompas.com


KOMPAS.com - Di setiap awal bulan, berbagai data fundamental ekonomi domestik mulai dirilis oleh pemerintah. Baik itu data inflasi, ekspor, impor serta neraca perdagangan Indonesia. Salah satu data penting yang kerap menjadi perhatian adalah data inflasi.

Inflasi menurut ilmu ekonomi sederhananya adalah peristiwa di mana terjadi peningkatan harga barang-barang secara umum & terus menerus dalam suatu periode /kontinyu berkaitan dengn mekanisme pasar. Hal ini terkait dengan hukum permintaan dan persediaan dari suatu barang atau jasa tertentu.  Sedangkan jika yang terjadi sebaliknya, maka kondisi itu disebut deflasi.

Untuk konteks Indonesia, inflasi lebih sering terjadi. Berbeda misalnya dengan Jepang yang lebih cenderung terus menerus mengalami deflasi dalam jangka panjang. Mengapa di Indonesia lebih sering terjadi inflasi?

Pada dasarnya secara umum inflasi disebabkan oleh dua faktor yaitu karena yang dikenal dengan istilah demand pull inflation & cost push inflation. Demand pull inflation atau inflasi karena naiknya permintaan, lebih banyak terjadi pada saat-saat tertentu.

Datangnya tahun ajaran baru misalnya, akan menaikkan permintaan pemenuhan kebutuhan biaya dan  perlengkapan sekolah. Peristiwa lainnya adalah menjelang datangnya bulan Ramadhan atau bulan puasa sampai dengan Hari Raya Idul Fitri. Kebutuhan masyarakat cenderung meningkat sehingga secara otomatis akan menggerek kenaikan permintaan. Mulai dari makanan, pakaian bahkan juga kendaraan akan bergerak naik. Implikasinya, pada momen tersebut biasanya inflasi di di dalam negeri akan meningkat.

Selanjutnya adalah memasuki bulan Desember, saat Natal  dan Tahun Baru. Kebutuhan biasanya ikut meningkat seiring perayaan Natal  dan liburan tahun baru yang mendorong peak season tidak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia.

Untuk menggambarkan penyebab terjadinya cost push inflation  atau inflasi yang disebabkan oleh kenaikan biaya,  contoh yang paling populer adalah kenaikan harga bahan bakar minyak.  Jika harga BBM naik berarti ongkos produksi meningkat. Maka produsen yang tidak ingin kehilangan profit akan membebankan kenaikan biaya tersebut pada harga jualnya. Akibatnya, harga barang-barang secara bersama-sama akan naik sehingga terjadi inflasi.

Lebih spesifik untuk Indonesia, komponen inflasi di dalam negeri terdiri dari volatile foods (komponen harga bergejolak), administered price (komponen harga yang diatur pemerintah),  core inflation (komponen inti) dan imported inflation (inflasi karena naiknya harga barang impor).

Apa sajakah yang memengaruhinya?
Yang tergolong dalam volatile foods adalah harga-harga barang yang tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK). Saat ini, indeks ini meliputi 7 (tujuh) kategori yang terdiri dari (1) Bahan makanan (2) Makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau ; (3) Perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar; (4) Sandang; (5) Kesehatan; (6) Pendidikan, rekreasi dan olah raga serta terakhir (7) Transport dan komunikasi dan jasa keuangan.

Berarti jika ada kenaikan harga dari ketujuh kategori di atas, maka komponen volatile foods akan bergerak naik  dan mendorong laju inflasi domestik. Khusus kenaikan harga bahan makanan, dikenal juga dengan istilah Agflasi atau agriculture inflation yaitu inflasi yang disebabkan oleh kenaikan harga-harga produk pertanian.

Adapun untuk sisi administered price terdapat beberapa contoh yang terjadi di Indonesia. Misalnya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM)  bersubsidi. Oleh karena itu, biasanya jika pemerintah berencana menaikkan harga BBM bersubsidi, maka akan berpotensi menggerek inflasi di dalam negeri. Namun selama ini, kenaikan inflasi akibat BBM biasanya cenderung berangsur turun karena masyarakat sudah mulai menyesuaikan kebutuhannya dan beradaptasi dengan kenaikan BBM itu sendiri. Maka inflasi di bulan-bulan berikutnya cenderung akan lebih rendah dibanding pada bulan pertama dan kedua penerapan harga BBM yang baru. Selain itu juga, kebijakan pemerintah untuk menaikkan tarif dasar listrik, kenaikan tarif tol dan lainnya akan mendorong terjadinya inflasi.

Selanjutnya, core inflation merupakan underlying inflation  yang cenderung menetap dalam setiap pergerakan laju inflasi. Dibandingkan dengan komponen inflasi lainnya, inflasi ini cenderung dapat dipengaruhi atau dikendalikan oleh bank sentral atau BI karena umumnya bersifat demand pull inflation. Maksudnya jika inflasi inti cenderung naik, maka kenaikan suku bunga acuan dapat menurunkan daya beli sehingga secara keseluruhan inflasi akan mereda.

Terakhir adalah imported inflation. Semakin banyaknya kebutuhan masyarakat yang dipenuhi dari barang impor cenderung membuat komponen imported inflation kian berpengaruh dalam laju inflasi. Cara cepat untuk menangani inflasi jenis ini adalah dengan kebijakan stabilitas nilai tukar rupiah. Jika rupiah menguat, maka imported inflation bisa ditekan seperti yang terjadi di pertengahan tahun 2011 lalu. Namun sebaliknya, jika rupiah cenderung terdepresiasi maka inflasi barang impor berpotensi meningkat.

Satu hal lagi yang menjadi faktor pencetus tingginya inflasi domestik adalah  kondisi geologis Indonesia sebagai negara kepulauan. Dibandingkan negara lain di kawasan Asia misalnya, inflasi Indonesia cenderung tinggi. Diperlukan tambahan ongkos transportasi antar pulau  yang biasanya akan menaikkan harga jual barang-barang. Akan tetapi, sebenarnya kondisi perekonomian dengan inflasi jauh lebih baik dibanding jika mengalami deflasi.

Mengapa demikian? Karena inflasi terutama yang disebabkan oleh demand pull inflation menunjukkan tingginya permintaan yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Oleh karenanya, di setiap negara umumnya memiliki target inflasi yang dianggap nyaman.

Saat ini, BI mentargetkan inflasi Indonesia 2012 di kisaran   4,5 persen plus minus satu . Artinya jika inflasi bergerak di level 3,5 – 5,5 persen  kondisi tersebut masih terhitung nyaman untuk perekonomian Indonesia. Jadi tidak perlu takut dengan inflasi selama masih dalam koridor aman seperti yang terjadi sekarang ini di mana inflasi Indonesia Mei 2012 dibandingkan dengan Mei 2011  sebesar 4,45 persen. (Nurul Eti Nurbaeti, Head of Research Divisi Tresuri Bank BNI)
*Tulisan ini merupakan pendapat pribadi

sumber: kompas.com